Showing posts with label Entrepreneurship. Show all posts
Showing posts with label Entrepreneurship. Show all posts
Friday, November 14, 2014 0 comments

Konsumen Tidak Butuh Produk Anda

Seberapapun bagus dan canggihnya sebuah produk, bisa saja produk tersebut tidak akan laku dijual.
Mengapa?
Karena pada dasarnya pembeli tidak butuh "produk". Mereka butuh "kenyamanan".

Salah satu contohnya adalah sekotak tissue.
Di tas ,di mobil, di rumah bahkan hingga ke kamar mandi kita selalu menyediakan tissue. Padahal dulu kita ngga merasa butuh,tuh.
Saat kita merasa perlu melap atau menghapus sesuatu. Ingus, keringat, tetesan air di meja kita biasanya melap dengan kain. (ingat, saat kecil kita melap ingus dengan lengan baju? hiiii)

Lalu kapan mulai merasa butuh tissue?
Kita mulai merasa butuh tissue ketika para Pembuat Strategi Marketing pabrik tissue berhasil meyakinkan dan merasuk ke pikiran kita bahwa melap dengan kertas tissue itu lebih bersih dan lebih higienis.

Ok. Kita melap segala kotoran dengan kertas tissue.

Namun, ternyata pabrik kertas tissue menerima berbagai macam pulp (bubur kertas) dengan berbagai macam 'grade' sesuai jenis kayu yang tersedia pada musim tersebut. Sehingga kertas tissue yang dihasilkan berbeda 'grade'nya. Maka para Ahli Marketing mereka berpikir keras lagi untuk menjual produk tersebut.

Akhirnya, sekarang kita dengan suka rela menerima kenyataan bahwa kertas tissue untuk wajah berbeda dengan tissue untuk toilet, berbeda juga untuk tissue dapur, dan berbeda dengan tissue untuk melap piring . Dan seterusnya.

Kembali lagi, jika sejak awal para Tenaga Penjual hanya menawarkan kertas tissue, tanpa upaya menanamkan bahwa "kita butuh tissue agar bersih (berarti merasa nyaman) apakah kita bersedia mengeluarkan uang hanya untuk membeli lembaran kertas tipis tersebut?

Jadi, apakah konsumen anda merasa nyaman menggunakan produk anda, sehingga mereka butuh untuk membeli lagi dan lagi?
Sunday, March 16, 2014 0 comments

Kratifitas Penting Dalam Berbisnis



Kreatifitas disebut-sebut sebagai salah satu modal utama dalam berbisnis. Mengapa? Pengalaman pengusaha sukses sudah membuktikan bahwa yang penting dalam bisnis bukanlah uang, melainkan kreatifitas. Idealnya, kreativitas itu menjadi budaya di semua bidang usaha, apa pun jenisnya. Dengan berpikir kreatif, hasilnya akan lebih baik. Tapi, jangan hanya menjadi berbeda. Berbeda itu harus ada alasannya, harus bisa dijelaskan. Tidak boleh bilang, “Ya, supaya beda aja.”
Misalnya, kenapa ada pengusaha yang berani menjual wagyu steak dengan konsep warung? Padahal, secara teori, wagyu yang tergolong produk mahal harusnya hanya bisa ditemukan di tempat mahal pula. Alasannya, yang dijual kan kenikmatan menyantap daging wagyu yang empuk. Selain itu, agar bisa menjangkau lebih banyak konsumen.

Kreatifitas dalam bisnis perlu diterapkan dalam berbagai aspek. Tak hanya dari segi produk. Mulai dari lokasi, promosi, CSR, hingga SDM perlu dipikirkan secara kreatif. Membuka tempat makan, misalnya, tak harus menempati food court sebuah mal ternama. Di bengkel cuci mobil (saat malam hari tentunya dia tutup), juga bisa. Soal promosi, dulu Martha Tilaar tak langsung bisa pasang satu halaman iklan di harian ternama. Awalnya, dia mendekati agen koran dekat lokasi salonnya, lalu menitipkan flyer untuk diselipkan di dalam koran.
 
Dalam hal servis? Bisa juga. Ada sebuah toko sepatu online yang konsepnya mirip Amazon.com. Bedanya, ketika konsumen merasa tidak puas saat menerima sepatu pesanannya, ongkos kirim ditanggung oleh toko. Pengusaha sepatu itu memahami bahwa konsumen punya rasa khawatir, bagaimana jika sepatunya tidak cocok. Sebab, biasanya membeli sepatu kan harus dicoba terlebih dulu. Lalu, ongkos kirim diambil dari mana? Dipotong dari biaya marketing. 

Soal jam buka saja, Anda bisa kreatif. Di Yogyakarta, siapa, sih, yang tak mengenal gudeg. Saat malam tiba, di sepanjang Jalan Malioboro, banyak sekali penjaja kaki lima yang menjual gudeg. Tapi, ada satu kedai gudeg di sebuah gang sempit. Dalam waktu kurang dari dua jam, gudeg sudah ludes. Padahal, tempat makannya biasa  banget.  Namun, dia berbeda, karena hanya buka menjelang tengah malam. Ditambah lagi, pengunjung boleh masuk dan mengantre langsung di dapur. Hasilnya, yang parkir di jalan dekat gang pun mobil-mobil mewah. 

Dan… kreativitas ini tak hanya untuk segelintir usaha saja. Pada dasarnya, setiap bisnis adalah bisnis kreatif. Bukan hanya industri kreatif saja yang harus kreatif. Bahkan, bank yang punya banyak regulasi ketat, bisa, kok, menjadi kreatif. Misalnya, di bidang CSR (Corporate Social Responsibility). 

*Saya posting juga di Rinny's Diary*
Sunday, March 2, 2014 0 comments

Tiga Prinsip Menguasai "Mobile Marketing" di 2014



Pada November 2012, Mark Plus Insight dalam “Netizen Survey 2012 “melaporkan bahwa 61.1 juta  masyarakat Indonesia menggunakan internet melalui ponsel cerdas. Begitupun menurut eMarketer.com, pada tahun 2013 , 24% masyarakat Indonesia mengakses internet melalui ponsel, dan 42,6%  diantaranya yang menggunakannya untuk berbelanja online. Pada survey tersebut juga diketahui bahwa 25,8% dari seluruh penjualan online selama akhir pekan dilakukan dengan bantuan ponsel

Untuk berhasil dalam ‘mobile marketing di tahun 2014 ini, Anda harus menguasai tiga prinsip berikut : SEGERA, SEDERHANA, dan KONTEKS IKLAN.
 
1. SEGERA
 
Kita telah menjadi masyarakat on-demand’. Ponsel adalah media on-demand’. Pengguna internet menginginkan informasi yang mudah diakses. Semua ‘orang marketing’ paham bahwa keputusan membeli diambil dalam hitungan menit begitu calon pelanggan menemukan kecocokan dengan produk yang ditawarkan. Bahkan, menurut Google, 63% transakti terjadi dalam waktu satu jam sejak dari pencarian awal.



Metode ‘mobile marketing’ mempercepat konsumen pengambilan keputusan sekaligus memungkinkan pemasar untuk mempengaruhi keputusan-keputusan lebih cepat dari sebelumnya .
Maka. cocokkan kampanye iklan anda dengan perilaku konsumen.   Begitupun, sesuaikan platform tempat anda beriklan (facebook, twitter,dan sebagainya)  dengan data profil pelanggan anda. Jika Pelanggan anda suka dengan gambar-gambar detail produk , maka pilihlah Facebook atau Instagram sebagai tempat anda beriklan. Sedangkan Twitter adalah media yang cocok jika anda ingin menyampaikan flash-news produk anda.

2. SEDERHANA



Pastikan website anda sudah mobile-optimized. Menurut penelitian, 40 %  pengakses internet akan meninggalkan sebuah website jika membutuhkan lebih dari tiga detik untuk tampil di layar ponsel. Jadi , Anda harus menyajikan informasi dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna dengan beban data yang ringan. Website sebaiknya hanya menampilkan hal-hal yang menyangkut informasi produk, lokasi toko, FAQ, konten bermanfaat atau bentuk layanan pelanggan. Beban data yang terlalu berat akan membuat website anda lambat terakses.

3. KONTEKS  IKLAN YANG TEPAT


Pastikan poin-poin yang anda sampaikan dalam website atau iklan harus relevan dengan harapan konsumen terhadap produk anda. Misalnya seseorang yang membeli sebuah mobil tentu mengharapkan adanya layanan purna jual . Maka produsen mobil bisa mengiklankan tentang jaminan perawatan berkala, diskon cuci mobil, atau ketersediaan suku cadang.

Untuk mengetahui kebutuhan pelanggan terhadap konten mobile marketing anda, maka dibutuhkan data dan riset  tingkah laku konsumen sehingga anda bisa menonjolkan konten penawaran yang menarik.  


Pesan iklan yang tepat waktu , disajikan dengan jelas , dan dalam konteks yang benar - akan membantu keberhasilan usaha anda  dalam era  mobile marketing  ini 
 

















...Bersambung








 









Monday, December 9, 2013 0 comments

Tips Sukses bagi Bisnis ' Start-Up'






Ada begitu banyak ketidakpastian ketika memulai bisnis Anda sendiri. Beberapa pertanyaan yang sering mengganggu diantaranya adalah: akankah orang membeli produk saya? Apakah layanan kami lebih baik dari pesaing? Haruskah saya berhenti dari pekerjaan saya sekarang untuk memulai usaha ini?

Nyaris semua pengusaha pemula merasa khawatir jika usahanya kelak tidak sukses. Richard Branson dalam salah satu seminar onlinenya mengatakan,”  Ada beberapa tips agar bisnis ‘start-up’ anda sukses. Pertama, sebagai pengusaha, anda harus mengenal target market usaha dengan sebaik mungkin . Kedua, juallah produk atau layanan yang berbeda dari pesaing, dan bersainglah secara sehat . Ketiga, produk atau layanan yang akan anda jual harus dapat memberikan manfaat lebih banyak dibanding produk atau layanan yang sudah ada. Keempat,  pengusaha harus bisa menonjolkan produknya lebih dari produk pesaing, Kelima , dapatkan sebanyak mungkin masukan dari pelanggan tentang produk atau layanan yang dijual. Bandingkan dengan produk atau layanan pesaing.

Nah, anda akan mulai berbisnis? Silakan perhatikan dan meniru tips tersebut.
Tuesday, October 1, 2013 1 comments

6 Tips Beriklan di Media Sosial


Media sosial  menjadi salah satu cara terbaik untuk menyampaikan materi promosi kita kepada masyarakat secara cepat dan masif.  Dengan sekali tekan tombol “ENTER” maka pesan yang kita kirim akan diterima oleh relasi kita sekaligus teman-teman mereka. Bayangkan jika kita memiliki 1000 orang follower pada laman media sosial, lalu ada 100 orang yang me-replay quote kita ,  maka 1000 orang plus ribuan orang teman dari 100 orang yang mereplay tadi akan membaca apapun yang kita tulis. Tidak jarang para pembaca ’ikutan’ ini bisa menjadi follower berikutnya.

Berikut ada 6 tips beriklan di media sosial:
1.      Gunakan kalimat sederhana
Agar usaha terlihat hebat, anda menampilkan materi iklan dalam kalimat yang panjang ditambahi dengan data-data statistik.  Ingat, anda sedang beriklan, bukan menulis jurnal ilmiah. Sampaikan materi iklan anda dalam kalimat sederhana dan tepat sasaran

2.      Visualisasikan
Orang lebih tertarik pada gambar-gambar dibandingkan narasi. Jadi, lebih baik visualisasikan iklan anda. Boleh dalam bentuk foto-foto ataupun video.

3.      Bercerita
Orang juga lebih tertarik mendengarkan sebuah cerita dibandingkan ’petuah’. Misalkan anda menjual produk herbal, dibanding anda ’berbusa-busa’ menjelaskan khasiat produk anda dengan kandungan bahan-bahan yang terbukti manjur, akan lebih menarik jika materi iklan anda dalam bentuk video testimoni para pengguna produk anda.

4.      Pilih media sosial yang tepat
Sekarang banyak sekali sosial media yang bisa anda pilih : facebook,   twitter, linkedin, pinterest, youtube,slideshare dll. Sesuaikan dengan bentuk materi promosi anda dan tujuan promosi.

5.      Tulislah Apa Adanya
Berpromosi adalah mengumuman kepada masyarakat manfaat yang bisa diperoleh dari membeli sebuah produk. Dalam materi promosi Anda bisa saja menutup- nutupi kelemahan produk anda sekarang. Namun, begitu customer datang dan membeli produk tersebut, cepat atau lambat kelemahan produk anda segera akan menyebar.  Anda tentu tidak ingin menunggu ledakan komplain, bukan?.
Kita bisa mencoba mencontoh pada disclaimer produk kosmetik.

6.      Bekerja sama
Bergabunglah dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki visi atau tujuan promosi yang sama. Di media sosial Anda bisa berbagi hashtag  sehingga tujuan gerakan anda lebih cepat tercapai. Misalny,a gerakan #AyoSarapanPagi yang diadakan oleh perusahaan cereal besar dan sebuah tabloid wanita


Tuesday, September 24, 2013 0 comments

ARLOJI SWISS, NOKIA DAN KODAK



Oleh Rhenald Kasali

Pada tahun 1960-an dipergelangan tangan manusia nyaris hanya ada arloji “made in Swizerland.” Jam tangan buatan Swiss itu menguasai market share di atas 60 persen. Tetapi tahun 1980-an market share-nya tinggal 15 persen
Pada tahun1970-an , dunia hanya mengenal film roll merek Kodak dan Fuji. Kini Kodak sudah tiada, sedangkan Fuji berevolusi ke dunia digital (lab, health, dan lain-lain). Beberapa tahun lalu, kita juga menyebut Nokia sebagai “HP sejuta umat", tetapi minggu lalu kita mendengar divisi handset Nokia diakusisi Microsoft.
Apa yang tengah terjadi dengan Strong Brand itu? Bukankah di Indonesia juga ada ribuan strong brand yang tinggal kenangan?
Ketika berhadapan dengan menurunnya Revenue from Sales, biasanya eksekutif mempersoalkan marketing. Yang satu mengutak-atik branding, yang lain membongkar sales, komisi penjualan, packaging dan seterusnya. Padahal masalahnya bisa jadi bukan di situ. Masalahnya bukan inside the “odds”, melainkan sesuatu yang telah berubah.

Nokia

Siapa yang tak kenal Nokia? Selain pernah menjadi sahabat banyak orang di sini, Nokia adalah Harvard business case study yang sangat menarik. Ia beralih dari merek sepatu menjadi ponsel dengan pendekatan “human touch” dan “connecting people.” Bentuknya jauh lebih fashionable daripada pesaing-pesaingnya: Motorola atau Ericsson.
Dari Nokialah, di Harvard, para eksekutif belajar cara membangun keunggulan daya saing. Ya daya saing perusahaan, daya saing negara (Finland), hingga bagaimana policy makers membangun kluster, industri-industri pelengkap dan kebijakan yang pro-business sehingga menciptakan lapangan kerja yang produktif dan kreatif. Kita berpikir, sekali daya saing didapat maka dengan prinsipitu akan di dapat sustainability. Dan itu artinya kesejahteraan.
Tetapi minggu lalu, Microsoft mengakusisi divisi handset Nokia dengan nilai 7,2 miliar dollar AS. Para investor bereaksi negatif, karena keduanya, baik Microsoft maupun Nokia, sama-sama sedang berada dalam kubangan kesakitan. Semua orang tahu, penjualan PC dunia sedang drop, sehingga Microsoft perlu beralih ke bisnis mobile devices. Artinya industrinya sendiri tengah berubah.
Namun Nokia sendiri seperti juga tengah berada dalam kubangan kesulitan yang sama. Global market share –nya mengerucut, tinggal 15 persen. Ketika kesulitan terjadi, eksekutif Nokia melakukan hal serupa seperti perusahaan-perusahaan lainnya: Mengutak-atik keunggulan brand-nya. Mereka lalu menjalin hubungan dengan Microsoft, yang tertarik menggunakan software windows phone. Tetapi solusi ini keliru. Brand Microsoft tak mampu membuat Nokia lebih baik. Pasar telah beralih ke Android dan Nokia selalu terlambat menanggapinya. Bagi sebagian besar analis, akuisisi ini juga tak mampu menjadikan Microsoft seperti Apple yg telah terlanjur memiliki loyalis dalam kategori mobile devices.
Kekacauan seperti di Nokia juga pernah terjadi di Kodak beberapa tahun yang lalu, tak lama setelah masa-masa sulit industri roll film di 1970-1980 an yang terjadi akibat kenaikan harga perak (bahan baku processing lab photography yang penting). Kendati di tahun 1980an harga perak telah kembali stabil, eksekutif Kodak memilih duduk manis. Padahal pada tahun 1980-an Sony mulai menjelajahi kamera digital, dan Fuji segera menangkap peluang itu.
Di bawah Minoru Onishi, Fuji menambah dana riset untuk teknologi digital. Pada tahun 1999, total investasi risetnya di area ini mencapai  2 miliar dollar AS. Sehingga pada tahun 2003, mereka telah memiliki lebih dari 5.000 digital processing labs. Mereka juga menjelajahi dunia kesehatan (rontgent), office automation, dan manufactur untuk floppy disk.
Bagaimana reaksi Kodak? Kodak masih berkutat di seputar marketing: branding, location, pricing, packaging, advertising dan seterusnya. Ketika Fuji telah menguasai digital lab processing, Kodak baru memiliki beberapa puluh unit saja. Inilah awal kemunduran Kodak, dengan resiko brand yang kuat pun bisa mati kalau hanya menjalankan marketing strategy saja. Sales drop bukanlah melulu akibat marketing salah, melainkan sesuatu telah berubah.
Reaksi serupa juga terjadi di Modern Group, distributor tunggal roll film Fuji di sini. Modern Group juga mengalami kesulitan ketika bisnis roll film tak lagi digemari pasar. Sales revenue nya dalam bisnis ini drop dari Rp 2 triliun (2002) tinggal menjadi hanya Rp 212 miliar (2010) dan terus merosot. Beruntung mereka segera beruba. Di bawah Henry Honoris, Modern Grup menjelajahi dunia baru dengan bussines model 7 Eleven yang sama sekali baru, yang dilengkapi dengan fasilitas nongkrong anak muda. Bisnis inilah yang kini menyelamatkan Modern Group.

Analisis Industri
Kebanyakan kita umumnya belajar marketing dari tokoh-tokoh lama yang mengedepankan pentingnya mengeksploitasi keunggulan-keunggulan dan keunikan-keunikan diri. Dengan analisis industri model Five-forces, kita menjadi yakin bahwa competitive advantage perlu terus diperkuat dengan hal-hal strategis di dalam brand itu.
Tetapi di awal abad 21, business landscape telah berubah total. Analisis industri yang dulu kita lakukan dalam masing-masing industri telah berubah. Para pelaku perubahan tak lagi bermain dalam area yang sama, sehingga persaingan sudah berubah menjadi antar industri, bahkan antar business model. Dalam buku Cracking Zone, saya memperkenalkan kategori baru dalam inustri yang saya sebut sebagai Cracker, yang artinya orang-orang yang memperbaharui industri.
Nah bila, wabah crackership sudah melebar kemana-mana, competitive advantages jelas menjadi persoalan baru dan marketing tidak bisa lagi berjalan sendiri. Bahkan strong brand bisa saja tiba-tiba beralih menjadi problematic brand. Apalagi bila eksekutif puncaknya sudah terlalu dimanjakan oleh berbagai fasilitas yang membuat mereka merasa nyaman.
Mereka akan sangat mudah digoyang para business-modelist baru yang tiba-tiba merampok keunggulan mereka. Itulah yang tengah terjadi di hampir semua industri dan melahirkan teori transient dalam analisis industri baru.
Editor : Erlangga Djumen

Friday, July 12, 2013 0 comments

Marketing Ala Zombie



Saat ini di jaringan bioskop sedang diputar Film “World War Z” yang menceritakan bagaimana Brad Pitt bertarung dan berjuang menyelamatkan keluarganya dari serangan para zombi. Artikel ini tidak akan menceritakan bagaimana jalan cerita film itu atau menerangkan panjang lebar  apa  itu zombi. Melainkan, saya menuliskan beberapa perilaku zombi dalam film tersebut yang bisa  kita pelajari sebagai taktik dalam bidang  pemasaran.
Berikut ini beberapa perilaku zombi dalam mengejar targetnya:

1. Pandangan Mata Fokus Pada Target

Orang Marketing , harus menjaga mata dan telinga tetap terbuka agar dapat ‘menerkam’ target dengan tepat. Pada awalnya , anda bisa mentukan target berdasarkan usia, jenis kelamin, status perkawinan, dan tingkat pendidikan. Kemudian perlu juga diketahui hal-hal seperti : bagaimana sikap , minat, hobi, dan gaya hidup Sang Target.

Setelah menentukan target, langkah berikutnya adalah untuk menemukan mereka:
a.     Pasang radar pada pesaing dan lihatlah siapa target mereka. PERINGATAN: jangan ikuti langkah dan cara mereka bermain, karena  mereka dengan mudah bisa mengalahkan anda.  Misalkan mereka memberikan diskon, anda malah membanting harga. Jika kompetitor lalu memberi diskon lebih rendah maka habislah  anda.
b.   Rajinlah meng up-to-date wawasan, pelajari kecenderungan terbaru Sang Target serta bagaimana tren bisnis terbaru.
c.   Tunjukkan sisi kemanusiaan Anda dengan melibatkan Target dalam diskusi facebook dan tweeter. Kesampingkan dahulu “sisi sales” anda agar  bisa terhubung secara personal dengan Sang Target. Dengan adanya personal relationship maka Target akan lebih terbuka, sehingga Anda bisa mendapat input yang membangun untuk produk/jasa yang anda jual. Keuntungan lain yang akan bisa didapatmelalui cara ini adalah secara tanpa Target sadari, awareness terhadap produk/jasa anda terbangun.
d.  Bergabunglah bersama  Google. Google sebagai search engine terfavorit di dunia akan membantu Anda menganalisis dan mencapai ceruk produk/jasa Anda. Mulailah dengan Google Alerts untuk tetap memantau target , pesaing dan industri bisnis Anda

2. Jangan Hanya “Menggeram” Sendiri.

Saya agak kesulitan mencari kata yang menggambarkan suara ‘teriakan’ zombi, jadi mohon terima saja istilah “menggeram”.
Banyak pebisnis  memiliki kecenderungan untuk bersikap ‘ jaim’ dan eksklusif , seolah-olah mereka adalah bagian masyarakat tersendiri.  Namun, Marketer akan melakukan yang sebaliknya.  Mereka berprinsip “Menjalankan bisnis kecil tidak berarti jangkauan harus kecil.”  Berbeda dengan monster lain yang selalu mengisolasi diri, zombi akan berkeliaran menularkan pengaruhnya.
Berikut ini 2 cara cepat “menulari” Target anda:
a.   Berikan manfaat bagi Target anda. Anda bisa menulis tips, artikel atau melakukan hal-hal bersifat “sharing” lainnya. Pastikan apa yang anda  lakukan adalah hal-hal yang sesuai dengan Target. Tentu anda tidak cocok memberikan tips memasak kepada para  mekanik, misalnya.
b.      Ikutilah pertemuan sosial . Tidak punya budget khusus untuk melakukan pertemuan di dunia nyata? Lakukan pertemuan di dunia  maya.  Misalkan buatlah coach-clinic online untuk membahas hal-hal tertentu yang relevan dengan target anda. Atau  Kultwit dengan hashtag tertentu sehingga bisa menjangkau audiens yang lebih luas.

3.  Milikilah Senjata Canggih.

Untuk melumpuh zombi dibutuhkan parang pemenggal kepala,  granat di tangan kiri ditambah pelontar api di punggung.  Begitupun dalam strategi pemasaran anda. Anda harus  memiliki senjata yang canggih. Email marketing, selebaran, Facebook, Twitter atau media sosial lainnya. Jika memungkinkan persenjatai strategi anda dengan taktik yang lebih trendi : Infographic dan web video.
Audiense akan lebih tertarik melihat iklan dalam bentuk grafis yang bergerak dan bersuara  dibandingkan dalam lembaran-lembaran kertas berbentuk tulisan yang panjang.  Buatlah Video anda dengan judul yang mengandung kata-kata yang atraktif. Daripada membuat video presentasi bergaya “materi  kuliah”  akan lebih menarik jika video anda dibuat dalam bentuk cerita “behind the scene”, bergaya interview, atau “product review.
Dalam laman Marketing online tersebut, berilah kesempatan kepada audiens untuk  berkomunikasi kepada anda melalui umpan balik, me-“like” di facebook, me-retweet, atau berkomentar. Dan jangan lupa untuk menanggapi setiap umpan balik itu, walaupun hanya dalam bentuk ucapan terima kasih atas kunjungan mereka ke laman anda.
Facebook dan Twitter pernah menjadi hal yang terbaru, sekarang, upaya pemasaran yang meluas ke tempat-tempat seperti Pinterest, Vine, dan Instagram.

Dan saat Anda untuk membaca kalimat ini, mungkin saja bayi media sosial baru telah lahir. Dengan segala hal tersebut orang-orang akan saling terhubung dengan cepat. Jika anda tidak melakukannya, maka kompetitor andalah yang akan memanfaatkannya


4.  Terimalah Kenyataan Bahwa Dunia Kini Berbeda.

Zombi era internet digambarkan dalam film “World War Z”  sebagai zombi yang sangat atraktif dalam mencari mangsa. Mereka tidak lagi bergerak perlahan setapak demi setapak. Kini,mereka akan mengejar, melompat dan menyerang target yang diincarnya. Begitupun dengan  dunia Marketing.
Apakah masih bertahan dengan gaya Marketing  yang anda terapkan 5 tahun lalu? Tidak ada salahnya, karena masih ada target pelanggan yang lebih menyukai cara-cara tradisional bahkan masih ada yang menyukai gaya penjualan ‘door-to-door”.
Namun, jika ingin lebih cepat membidik target yang lebih luas, maka anda harus menerima bahwa produk anda harus tampil 24/7. Kapanpun pelanggan membutuhkan data produk tersebut , mereka akan mencarinya di internet.  Maka unggahlah sebanyak-banyaknya  dan sedetil-detilnya data mengenai produk /jasa yang anda jual. Dan tidak ada salahnya juga mengunggah video dan foto-foto  produk serta kegiatan usaha anda melalui Pinteres, Vine dan Instagram.
.Selalu up-date pengetahuan Marketing anda, agar strategi yang akan anda jalankan tidak akan menjadi  hal yang ketinggalan jaman.
 ---
 
Untuk dapet info Nastar dan Kue Kering Terenak sedunia, klik ini.








.








Monday, April 29, 2013 0 comments

Anda Akan Beriklan? Dengarkan “Pasar’


David Ogilvy, sosok yang dianggap Bapak Periklanan Modern mengatakan “ When I write an advertisement, I don’t want you to tell me thet you find it “creative”. I want you to find it so interesting that you buy the product”
Intinya, David Ogilvy ingin mengatakan bahwa misi sebuah iklan adalah menjual. Karena itu , sebuah iklan haruslah menjual, tidak cukup hanya indah, artistik dan memenangi banyak penghargaan. “If it doesn’t sell, it is not creative”lanjut Ogilvy.
Menurut Ogilvy,  advertising  yang oke adalah advertising that sells.  Dan kreatif yang oke adalah creative that sells.
Saat menyiapkan iklan anda harus tahu apa yang dimaui oleh pasar, harus tahu apa yang diingini oleh pasar, dan dari keinginan pasar itulah kemudian dibikin kreatifnya. Pesan iklan haruslah bisa sampai dan dimaui target audiens. Maka anda harus mau mendengarkan pasar, menangkap kemauan pasar dan kemudian menerjemahkan kemauan pasar tersebut dalam konsep  iklan yang pas.
Tidak ada  gunanya  iklan yang indah dan sangat kreatif, bahkan jika diikutkan kontes bisa memenangkah penghargaan, jika iklan tersebut tidak dilirik sekalipun konsumen dan menghasilkan penjualan.
Disamping mendengarkan maunya pasar, iklan anda juga harus menampilkan feature dan benefit yang menjadi unique selling dari produk yang diiklankan. Benefit yang paling mudah dikomunikasikan secara jelas kepada target pasar anda adalah manfaat fungsional (functional benefit) ketimbang manfaat emosional (emotional benefit).
Sebagai contoh iklan yang mengomunikasikan manfaat fungsional produk adalah iklan Adem Sari. Bintang iklan wanita ditampilkan sedang panas dalam tetapi tidak kunjung sembuh. Lalu temannya menunjukkan bahwa produk yang dikonsumsinya salah, karena minuman tersebut ‘hanyalah’ minuman segar dan cuma untuk mencegah panas dalam. Ini berbeda dengan manfaat yang ditawarkan Adem Sari yang dapat juga mengobati sakit tenggorokan, sariawan, bibir pecah-pecah, susah buang air besar dan gejala lain yang diakibatkan panas dalam.
Dalam contoh iklan ini, terlihat bagaimana gaya feature dan benefitdituangkan dalam iklan komparasi.
Sunday, April 28, 2013 0 comments

Konsep IKLAN Harus Berstrategi.


Masih ada saja biro iklan atau petinggi bagian promosi di perusahaan yang mengatakan bahwa hasil aktifitas promosi adalah awareness, image,atau paling top hanya membangun preference konsumen. Kalau sampai diberi tanggung jawab menjual, jawaban mereka “Entar dulu…. Cara paling tokcer untuk berkelit adalah mengatakan bahwa keberhasilan menjual tergantung pada kualitas produk, harga jual yang kompetitif atau ratanya distribusi.Promosi tidak mungkin atau tidak sanggup dibebani tugas sampai berhasil menjual.
Dalam pandangan saya, tidaklah cukup kalau kita “Cuma berjanji mendapatkan awareness, image ataupreference. Itu namanya mau cari aman doang.Yang dibutuhkan perusahaan adalah produknya laku dan terjual lagi, agar bisa jualan dan promosi lagi.
Promosi memang bukan hanya untuk PROMOSI. Promosi merupakan strategi penting untuk meraih keunggulan bersaing. Tidak hanya keunggulan sesaat melainkan keunggulan yang berkelanjutan. Dan harus dimulai dengan keberhasilan menjual.
Friday, April 26, 2013 0 comments

Kunci Sukses Usaha : BERANI BEDA


Ego menjadi seorang pewirausaha adalah menciptakan sesuatu yang fresh, yang belum pernah dilakukan orang lain. Tapi, ini bukan soal gampang. Tantangannya cukup sulit: harus selalu punya gagasan yang kreatif. Mampukah Anda? Pasti mampu, asalkan Anda mau melatih kreatifitas Anda terus-menerus.

Do what you love. Tak hanya dalam karier, prinsip ini pun harus, tidak bisa tidak, diterapkan saat berbisnis. Produk hasil karya Anda harus ‘u-nique’. Maksudnya, produk itu ‘Anda banget’, harus mencerminkan passion Anda. Jangan sampai Anda bergelut dengan suatu bisnis hanya karena profit margin-nya tinggi. Tapi, menemukan bidang bisnis yang Anda sukai saja, juga belum cukup. Ada plusnya, yaitu harus berbeda dari bisnis yang sudah ada. Kalau hanya berbeda, tapi Anda tak suka, ini juga bahaya. Jadi, dua syarat ini harus dipenuhi. 

Misalnya, Anda suka banget aksesori. Pokoknya, passion Anda ada di situ. Yang awalnya hanya berbisnis pakaian, Anda ingin mengembangkan sayap ke bisnis aksesori. Oke, mau aksesori yang seperti apa? “Hmm… yang persis seperti Elisabeth Wahyu gitu…,” demikian kata Anda. Nah… ini jebakan. Kalau hanya membuat produk yang sama persis dengan yang sudah ada di pasaran, kemungkinan besar akan terjadi perang harga. Ujung-ujungnya, Anda mungkin gulung tikar. Karena, kalau produknya sama, konsumen akan memilih yang sudah established, yaitu merek yang sudah lebih dulu dikenal.
0 comments

Kunci Sukses Usaha : KREATIF


Kreatifitas adalah salah satu modal utama dalam berbisnis. Mengapa? Pengalaman pengusaha sukses sudah membuktikan bahwa yang penting dalam bisnis bukanlah uang, melainkan kreatifitas. Idealnya, kreativitas itu menjadi budaya di semua bidang usaha, apa pun jenisnya. Dengan berpikir kreatif, hasilnya akan lebih baik. Tapi, jangan hanya menjadi berbeda. Berbeda itu harus ada alasannya, harus bisa dijelaskan. Tidak boleh bilang, “Ya, supaya beda aja.”
Misalnya, kenapa ada pengusaha yang berani menjual wagyu steak dengan konsep warung? Padahal, secara teori, wagyu yang tergolong produk mahal harusnya hanya bisa ditemukan di tempat mahal pula. Alasannya, yang dijual kenikmatan menyantap daging wagyu yang empuk. Selain itu, agar bisa menjangkau lebih banyak konsumen.
Kreatifitas dalam bisnis perlu diterapkan dalam berbagai aspek. Tak hanya dari segi produk. Mulai dari lokasi, promosi, CSR, hingga SDM perlu dipikirkan secara kreatif. Membuka tempat makan, misalnya, tak harus menempati food court sebuah mal ternama. Di bengkel cuci mobil (saat malam hari tentunya dia tutup), juga bisa. Soal promosi, dulu Martha Tilaar tak langsung bisa pasang satu halaman iklan di harian ternama. Awalnya, dia mendekati agen koran dekat lokasi salonnya, lalu menitipkan flyer untuk diselipkan di dalam koran.
Dalam hal servis? Bisa juga. Ada sebuah toko sepatu online yang konsepnya mirip Amazon.com. Bedanya, ketika konsumen merasa tidak puas saat menerima sepatu pesanannya, ongkos kirim ditanggung oleh toko. Pengusaha sepatu itu memahami bahwa konsumen punya rasa khawatir, bagaimana jika sepatunya tidak cocok. Sebab, biasanya membeli sepatu kan harus dicoba terlebih dulu. Lalu, ongkos kirim diambil dari mana? Dipotong dari biaya marketing. 

Soal jam buka saja, Anda bisa kreatif. Di Yogyakarta, siapa, sih, yang tak mengenal gudeg. Saat malam tiba, di sepanjang Jalan Malioboro, banyak sekali penjaja kaki limayang menjual gudeg. Tapi, cobalah mencicipi Gudeg Pawon di Umbulharjo, Yogyakarta.  Kedai gudeg ini terletak di sebuah gang sempit namun dalam waktu kurang dari dua jam, gudeg  sudah ludes. Padahal, tempat makannya biasa  banget.  Namun, dia berbeda, karena hanya buka menjelang tengah malam. Ditambah lagi, pengunjung boleh masuk dan mengantre langsung di dapur. Hasilnya, yang parkir di jalan dekat gang pun mobil-mobil mewah. 

Dan… kreatifitas ini tak hanya untuk segelintir usaha saja. Pada dasarnya, setiap bisnis adalah bisnis kreatif. Bukan hanya industri kreatif saja yang harus kreatif. Bahkan, bank yang punya banyak regulasi ketat, bisa, kok, menjadi kreatif. Misalnya, di bidang CSR (Corporate Social Responsibility). 


Thursday, April 25, 2013 0 comments

My Customers are My Best Promotors (Bag.1)


Order Asian food online with Foodpanda ID
(Bagian 1)

Tahukah anda berapa harga produksi sebuah ponsel Samsung Galaxy S4 yang akan di luncurkan pada akhir April 2013 nanti? Berdasarkan kutipan dari IHS iSupply, Galaxy S4 kemungkinan hanya menghabiskan biaya produksi sekitar 244 US Dollar atau sekitar 2.3 juta rupiah. Namun diperkirakan produk tersebut akan dijual pada kisaran harga 7 juta rupiah. Harga jual yang 3 kali lipat dari harga produksi ponsel tersebut mengandung biaya iklan sebagai faktor biaya terbesar. 

Bagaimana dengan UKM yang tidak memiliki cadangan dana untuk mendukung kampanye produknya? Untuk itu dibutuhkan strategi lain dalam menyebarkan informasi produk atau jasa yang  anda jual.  

Seorang pebisnis yang mempunyai keterampilan mengemas informasi produk (atau jasa) yang dijualnya sesungguhnya dapat menjadikan  pelanggannya sebagai “staf penjualan dan pemasaran”. Parapengusaha dapat memanfaatkan pelanggannya sebagai sumber informasi bukan hanya tentang review produk atau tren produk terbaru di komunitas mereka saja. Bahkan jika anda pandai memancing , anda bisa memperoleh informasi tentang kompetitor dari mereka. Pelanggan yang puas dengan produk (atau jasa) anda bisa menciptakan keterkenalan melalui getok tular . Yang berujung pada meningkatnya penjualan anda. Hebatnya penyebaran informasi dengan cara ini bisa anda peroleh tanpa biaya, lebih-lebih biaya yang besar seperti halnya anda memasang iklan di berbagai media. 

Sekarang bukan lagi era MEDIA sosial tetapi  media SOSIAL . Penyampaian informasi secara getok tular dilakukan secara online melalui media Facebook, Twitter, Linkedin, BBM, dan lain-lain. Saat pelanggan anda menuliskan pujian atas produk (atau jasa) anda, cukup dengan satu klik ribuan orang yang terhubung dengan pelanggan tersebut akan terjangkau, dan membaca informasi yang disampaikan. Sehingga jika anda bisa menguasai metode ini maka  anda bisa memperoleh hasil yang luar biasa.  
Ada 4 hal yang harus anda miliki agar pelanggan mau melakukan getok tular atas produk anda.
1.      Harus Menarik
Apakah anda akan merekomendasikan kepada teman anda sebuah produk yang biasa-biasa saja, yang tidak meninggalkan kesan buat anda? Saya yakin anda langsung melupakan merek produk tersebut begitu kemasannya dibuang ke tempat sampah.  
2.      Buatlah Sederhana.
Merek , slogan atau apapun yang  anda ingin sebarkan sebagai icon produk anda sebaiknya dibuat dalam kata-kata atau gambar sederhana dan mudah diingat. Sebagai contoh logo produk anda bergambar  seorang lelaki yang sedang menarik sapi, berdiri dibawah pohon beringin lalu disamping kiri berhias padi-kapas dan bintang 6 buah. Atau slogan produk jamu anda : “Jamu X membuat anda selalu sehat sentosa lahir batin sejahtera”. Kasihan pelanggan anda karena ia harus mengeluarkan energi besar untuk mengingat produk anda.
Slogan sebuah produk sebaiknya tidak lebih dari 3 buah kata. Begitupun gambar logo sebaiknya    tidak lebih dari 3 unsur.
3.      Buatlah Pelanggan Bahagia.
Pelanggan yang mencintai produk anda akan dengan suka rela mempromosikannya terhadap kerabat dan teman mereka. Cara membuat mereka mencintai tidak ada jalan lain adalah dengan membahagiakannya.Didiklah staf  frontliner  anda berlaku santun dan cekatan, diskon khusus bagi pelanggan atau memberikan gimmick kecil sebagai bentuk perhatian adalah cara-cara yang bisa anda lakukan untuk membahagiakan pelanggan. 
4.      Dapatkan kepercayaan dan rasa  hormat dari pelangganTidak ada yang akan mempertaruhkan reputasi sendiri dengan merekomendasikan sebuah produk yang meragukan. Namun, bila perusahaan anda sebagai pemilik produk diketahui selalu memperlakukan pelanggan, mitra dan karyawan dengan baik, para pembeli tidak akan keberatan menjadi pelanggan setia anda  .

Bersambung......

Order International food online with Foodpanda ID
 
;